Sunday, February 26, 2006

where to pray??



























Lobak, telur, dan kopi... Kita yg mana??

Cerita ini dibuat setelah 3 minggu mengkaji bahan2 tersebut utk perumpamaan dan marilah kita baca bersama...

"Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan bertanya mengapa hidup ini terasa begitu sukar dan menyakitkan baginya. Dia tidak tahu bagaimana untuk menghadapinya dan hampir menyerah kalah dalam kehidupan. Setiap kali satu masalah selesai, timbul pula masalah baru.

Ayahnya yang bekerja sebagai tukang masak membawa anaknya itu ke dapur. Dia mengisi tiga buah periuk dengan air dan menjerangkannya diatas api. Setelah air didalam ketiga periuk tersebut mendidih, dia memasukkan lobak merah didalam periuk pertama, telur dalam periuk kedua dan serbuk kopi dalam periuk terakhir.

Dia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak tertanya-tanya dan menunggu dengan tidak sabar sambil memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh ayahnya. Setelah 20 minit, si ayah mematikan api.

Dia menyisihkan lobak dan menaruhnya dalam mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya dalam mangkuk yang lain dan menuangkan kopi di mangkuk lain.



Lalu dia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Lobak, telur dan kopi", jawab si anak. Ayahnya meminta anaknya merasa lobak itu. Dia melakukannya dan berasa bahawa lobak itu sedap dimakan.

Ayahnya meminta mengambil telur itu dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, dia dapati sebiji telur rebus yang isinya sudah keras.

Terakhir, ayahnya meminta untuk merasa kopi. Dia tersenyum ketika meminum kopi dengan aromanya yang wangi. Setelah itu, si anak bertanya, "Apa erti semua ini, ayah?" Ayah menerangkan bahawa ketiga-tiga bahan itu telah menghadapi kesulitan yang sama,
direbus dalam air dengan api yang panas tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeza.

Lobak sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, lobak menjadi lembut dan mudah dimakan. Telur pula sebelumnya mudah pecah dengan isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.



Serbuk kopi pula mengalami perubahan yang unik. Setelah berada didalam rebusan air, serbuk kopi mengubah warna dan rasa air tersebut.
"Kamu termasuk golongan yang mana? Air panas yang mendidih itu umpama kesukaran dan dugaan yang bakal kamu lalui. Ketika kesukaran dan kesulitan itu mendatangimu, bagaimana harus kau menghadapinya ?

Apakah kamu seperti lobak, telur atau kopi ?" tanya ayahnya.

Bagaimana dengan kita ? Apakah kita adalah lobak yang kelihatan keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kita menyerah menjadi lembut dan kehilangan kekuatan. Atau, apakah kita adalah telur yang pada awalnya memiliki hati lembut, dengan jiwa yang dinamis ? Namun setelah adanya kematian, patah hati, perpisahan atau apa saja cabaran dalam kehidupan akhirnya kita menjadi menjadi keras dan kaku.

Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kita menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku? Atau adakah kita serbuk kopi ? Yang berjaya mengubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasa yang maksimum pada suhu 100 darjah celcius.

Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi akan terasa semakin nikmat.
Jika kita seperti serbuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk atau memuncak, kita akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan disekitar kita juga menjadi semakin baik.

Samalah halnya dengan serbuk kopi yang berjaya mengubah air panas yang membakarnya menjadikan ia lebih sedap dan enak untuk diminum.

Antara lobak, telur dan kopi, kita yang mana?

Atha dan Kain Tenunannya

Alkisah, hidup seorang tabiin saleh bernama Atha As-Salami. Suatu hari Atha bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, ''Ya, Atha sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.

''Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis. Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, ''Ya, Atha sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu itu dan membayarnya dengan harga yang pas.

''Tawaran itu dijawabnya, ''Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya, ketahuilah, sesungguhnya, yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya.

Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah sebagai ahli-Nya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis...''

Friday, February 24, 2006

A Non-Muslim Joining Muslims in Salah

Fatwa Question Details
Name Jack - Ireland

Title A Non-Muslim Joining Muslims in Salah

Question: As-Salamu `alaykum. Last week at an Interfaith meeting at our mosque, a Christian prayed in the line with the Muslim brothers at `Isha’. He had nowudu’, and it was a Muslim brother who had told him to 'watch and follow' him.

A number of the brothers were upset. No one seemed to know how this situation should be viewed, or handled. Since it may arise in the future, we need to know what to do. There were those who condemned - not the Christian, but the Muslim brother who is NOT ignorant about Islam. Then there were those who were gentle.
What should we do if similar situations arise in the future?

Date 15/Feb/2006

Mufti Muzammil Siddiqi
Topic Places of Prayer (Mosques)

Answer:
Wa `alaykum As-Salamu wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.

Dear brother in Islam, thanks for your question, which emanates from a God-fearing heart, since it shows your commitment to da`wah, the basic duty of every Muslim. We’d would like to commend your pursuit of Islamic counseling.

As for your question, Muslims should be kind and gentle when dealing with all people, including non-Muslims, so that they will have the chance to see the true Islam through their practical good behavior. Therefore, if a non-Muslim, out of respect for Muslims or in order to learn Islamic prayer, joins them in salah, he/she is allowed to do so.

Responding to your question, Dr. Muzammil H. Siddiqi, former President of the Islamic Society of North America, states:

Muslims must pray with wudu’, but if a non-Muslim, out of respect for Muslims or in order to learn Islamic prayer, joins them in salah, he/she is allowed to do so. This may be a way for this person to come closer to Islam, and Allah may lead him/her to the right path.

Also, as a rule we should know that if a Muslim prays without wudu’, his/her prayer is not valid, but it does not invalidate the prayers of those who are standing in the same line with him/her.

You can also read:

Can a non-Muslim Enter the Mosque?
Giving a Copy of the Qur’an to Non-Muslims
Donating the Qur’an to a Non-Muslim Library
A Non-Muslim on the Shore of Islam: Can He Fast Ramadan?


Allah Almighty knows best.

click here to see the webpage

Insect Bites n Stings

Mosquito, midge or ant bites are usually red and have swelling around the affected area. Simply wash with soap and cool water. If swollen, cover with cold wet cloth.

Bee, hornet and wasp stings can include pain, redness, swelling, burning, itching. To remove a sting, use the edge of a credit card and scrape it across the area until it is removed. You can also use tweezers, but be careful not to inject further venom into the victim. Once again wash with cool water and soap. Apply ice pack to any swelling. If symptoms persist or severe itching ensues, visit your local GP

People can have serious allergic reactions to insect bites. This reaction could take place immediately or after a delay. Someone suffering an allergic reaction will have swelling around the affected area, possible swelling of the face and tongue, itchy hands or feet, breathing difficulties and faintness. Call the emergency services for medical assistance.


From Muslim Health Network
http://www.muslimhealthnetwork.org/

Tuesday, February 07, 2006

Bid'ah Hasanah *weblink*

Ana ada dapat sebuah emel dari seorang kawan ana tentang bid'ah hasanah..haa..selama ini pun, ana memang ada musykil tentang istilah 'bid'ah hasanah' ini dan perkara-perkara yang dikatakan 'bid'ah hasanah'.

jadi bagi rakan-rakan di luar sana yang sama-sama musykil atau sekadar ingin menambahkan lagi ilmu di dada, bolehlah klik di sini.

semoga bermanfaat! =)

"Cinta Anta dan Anti "

oleh Maszlee Malik
(Diperolehi daripada Majalah i edisi Bulan Februari)




"Sesungguhnya mukmin itu bersaudara" (Surah al-Hujuraat:ayat 10)
"Tidak beriman seorang muslim itu sehingga dia mencintai saudaranya sepertimana dia mencintai buat dirinya" (Hadis Riwayat al-Bukhari)

Bagi mereka yang mempelajari kedua-dua ayat dan hadis di atas, apa yang difahami ialah semua mukmin itu bersaudara dan juga ia menerangkan tentang tanggungjawab seorang Muslim kepada saudaranya yang lain. Selain daripada kedua-dua ayat dah hadis di atas, berdozen lagi dalil-dalil yang menunjukkan kewajipan seseorang Muslim mencintai, mengambil berat, membantu, bersikap peduli dan juga mengasihi saudara seagamanya. Perkataan "ukhuwah" yang bermakna "persaudaraan" seriang dijadikan tema untuk persaudaraan ikhlas yang bertunjangkan iman dan takwa ini.

Kisah-kisah para sahabat yang berkorban dan berjuang untuk para sahabat masing-masing menjadikan contoh teladan kepada generasi Muslim zaman moden. Inilah yang menjadi pengamalan anak-anak harakah Islamiah dan dakwah semenjak kebangkitan Islam di tahun 70'an lagi.

Kebangkitan Islam yang telah menemukan kemuncaknya di Malaysia telah menyaksikan pesatnya usaha dakwah, kemunculan sekolah-sekolah agama, bank-bank Islam dan pelbagai lagi di atas nama Islam. Tiada siapa yang dapat menafikan, itu semua adalah hasil daya usaha sama ada secara langsung atau tidak langsung, pendukung-pendukung gerakan Islam semenjak tiga dekad yang lalu. Di waktu yang sama, pemikiran barat sekular, liberalisasi dan juga budaya hendonisme pesat menular dan bersaing. Keindahan persaingan kedua-dua arus ini telah melahirkan budaya yang baru di dalam fenomena kebangkitan Islam di Malaysia.

Jika di awal kebangkitan Islam dahulu, dunia hanya dilihat sebagai hitam dan putih. Kehidupan di dalam dunia ini di waktu itu hanya dilihat sama ada berpihak kepada Islam ataupun Jahiliah. Di alaf ini, dunia tidak lagi hitam dan putih dan bukan lagi Jahiliah versus Islam. Penjalinan di antara apa yang ada di dunia dan apa yang ada di dalam nas telah menyaksikan pelbagai kesan. Ada yang positif dan ada yang negatif. Antara yang terkesan dengan fenomena yang baru ini ialah persoalan "ukhuwwah".

Cinta Remaja Dakwah.

Sebagai seorang pensyarah di IPT yang bergelar ustaz, penulis mempunyai peluang yang menarik untuk bercampur dengan para pelajar yang menempuh zaman muda belia mereka. Pelbagai masalah, isu dan juga pengalaman yang mereka bawa untuk dibincangkan. Antara perkara yang sering dibawa berbincang ialah persoalan cinta. Alaf yang serba unik telah menyaksikan bagaimana para remaja dan belia dakwah tidak dapat lari dari fenomena cinta. Menariknya, cinta yang mereka alami ini telah di"Islamik"kan seperti mana bank-bank, institusi-institusi kewangan lain diislamkan. Maka timbullah istilah "Cinta Ukhuwwah". Ayat-ayat dan hadis-hadis sering dijadikan alat untuk menjustifikasikan apa yang dilakukan. Menarik lagi gejala ini menular di kalangan mereka yang berkopiah, berserban, bertudung litup, naqib-naqibah usrah dan mereka yang menggunakan ganti nama "ana – anta dan ana – anti".

Sms,Yahoo Messenger, email dan lain-lain kemudahan perhubungan era ICT telah menjadi penghubung utama cinta "anta-anti" ini. Ia lebih selamat, kerana tidak perlu berdating seperti pasangan yang tidak Islamik. Tidak perlu membazir tambang teksi, tambang bas dan juga membazir membeli kertas kajang berbau wangi dan dakwat yang berwarna-warni seperti mana halnya anak-anak muda lain yang jauh dari arus kebangkitan Islam. Bermula dengan kata-kata tazkirah, berakhir dengan ikon senyuman, teddy bear dan kadang-kadang gambar wanita bertudung.

Malah ada yang menjadikan kehadiran di seminar-seminar, kursus-kursus dan juga wacana-wacana ilmiah sebagai peluang untuk berjumpa. Bagi yang aktif berpersatuan pula, mesyuarat-mesyuarat dan aktiviti-aktiviti persatuan sering menjadi medan pelepas rindu. Alahai…kreatif betul anak-anak muda dakwah alaf baru ini.

Fenomena yang berlaku ini dimeriahkan dan dikosmetikkan lagi oleh nasyid-nasyid Melayu yang berpaksikan cinta muda-mudi. Klip-klip video nasyid pun, tajuk-tajuk yang bombastik berbau cinta asmara. Hakikatnya, fenomena cinta "anta-anti" ini semakin ketara dan semakin rancak. Ada yang berakhir dengan perkahwinan, dan ada juga yang kecewa di pertengahan jalan, dan tidak kurang juga yang telah menjerumuskan kedua-dua pasangan ke lembah maksiat. wal'iyadhubillah…

Salah Faham Ukhuwwah fillah

Teringat juga penulis kepada satu fenomena apabila seorang siswi datang mengadu dia diusik oleh Pak Lebai. Bukan sekadar sms, kad ucapan hari lahir, kad hari raya, malah sejambak bunga ros di hari lahir juga telah dikirimkan oleh Pak Lebai tersebut.Tidak tahulah penulis apakah tanggapan masyarakat terhadap fenomena seumpama ini. Yang pasti di setiap kad, sms dan di jambangan bunga tersebut terukir kata-kata "Ukhuwwah fillah kekal abadi..".sekali lagi makna ukhuwwah disalah gunakan.

Satu kes yang lain pula, seorang siswa meluahkan kekecewaannya apabila dihampakan oleh seorang siswi yang satu "jemaah" dengannya. Beliau tidak sangka setelah berpuluh-puluh minggu mereka bertukar-tukar sms dan tazkirah melalui email, akhirnya siswi tersebut bertunang dengan orang lain yang juga satu "jemaah" dengan mereka.Aduh..lagi hebat daripada filem "Love Story" yang pernah popular di tahun-tahun 70'an dahulu. Yang pasti, sekali lagi tema "ukhuwwah fillah" menjadi "camouflagde" ke atas perhubungan antara dua jantina yang ada kesedaran Islam ini.

Dalam satu insiden yang lain pula, seorang siswi pernah meminta pendapat penulis. Seorang seniornya yang sedang menuntut di dalam IPT yang sama dengan beliau telah bersungguh-sungguh melamarnya. Walaupun telah ditolak lebih 20 kali, namun si teruna terus melamarnya juga.Sekali lagi slogan "ukhuwwah fillah" menjadi lapik dan dijadikan bahan ugutan. Jika si siswi tadi menolak lamarannya, maka hatinya akan hancur, dan ia bertentangan denga mafhum hadis tadi. Oleh kerana bersimpati dengan si senior tersebut, si siswi terpaksa menerima lamaran itu. Menarik bukan "trend" percintaan golongan anta-anti ini.

Seorang siswa juga pernah meluahkan kemarahannya ke atas naqib usrahnya di bilik penulis. Mengapa tidak, tatkala di dalam usrah, berkepul-kepul dalil dan fikrah yang dibawanya. Sampaikan ketika pertukaran ke usrah lain, si naqib meminta siswa tadi agar berbai'ah untuk kekal di dalam perjuangan dan tidak menyertai jemaah lain. Sayangnya, di dalam perjalanan balik kampung, siswa tersebut nampak sang naqib berjalan berpegangan tangan dengan naqibah sekelas mereka…ini yang paling menarik.Lebih hebat lagi, kedua-dua mereka lengkap dengan aksesori berkopiah dan bertudung litup. Jika di zaman 70'an dahulu nescaya apa yang dilakukan oleh sang naqib dan naqibah tersebut bakal menerima cop "kafir" dari pendukung gerakan dakwah yang lain.

Di satu sudut yang lain pula, seorang siswa yang sering menceritakan kehebatan "Abuya"nya kepada penulis, juga tidak dapat lari dari fenomena cinta anta-anti ini. Penulis amat kagum dengan siswa yang sering muncul dengan baju Melayu berkancing dan juga songkok berwarna-warninya ini. Matanya yang bercelak sahaja sudah cukup untuk rakan-rakan yang lain hormat kepada beliau. Sayangnya atas takdir Allah, ketika penulis berkunjung untuk menziarahi beliau, penulis ternampak gambar seorang Muslimah menghiasi desktop komputer peribadinya. Ditanyakan sama ada itu adik, kakak ataupun emaknya atau mungkin neneknya, beliau menafikan. Beliau terpaksa mengaku bahawa itu adalah "kawan"nya. Yang hebatnya, tertulis di sebelah keayuan wajah gadis tersebut "Ukhuwwah fillah membawa ke Jannah".

Persoalannya, adakah fenomena ini sihat? Adakah ia sudah cukup islamik? Atau penulis yang ketinggalan zaman sehingga naif terhadap trend muda mudi masa kini? Ataupun fiqh Islamiyy juga perlu diubahkan untuk disesuaikan dengan perubahan semasa. Di dalam artikel yang terhad ini, penulis tidak berhajat untuk memberikan hukuman mahupun pandangan terhadap fenomena yang menarik ini. Biarlah para pembaca membuat penilaian mereka terhadap "sihat" atau tidak sihatnya budaya ini. Semoaga ada di kalangan pembaca yang akan dapat memberikan pandangan yang rasional serta boleh diwacanakan.

ALLAH a'lam bissawab..