Seperti yang kita tahu, telefon dan SMS merupakan alat perantaraan komunikasi yang tidak wujud di zaman rasul, sahabat mahupun tabiin. Dalam hal ini saya mengembalikan hukum sesuatu perbuatan itu kepada asalnya, iaitu mengikut kaedah usul fiqh, asal kepada setiap satu itu adalah harus, selagi tidak ada nas yang mengharamkannya. Atau dalam masalah telefon barangkali dapat kita lihat dalam bab mendengar percakapan wanita , satu bab yang ada dalam kitab fiqh. Bercakap dan mendengar percakapan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram/ajnabi, dengan satu hajat atau tujuan yang baik, adalah diharuskan di dalam Islam, selagimana ianya aman dari fitnah, tidak menimbulkan shahwat, dan tidak melalaikan dari mengingati Allah Ta'ala.
Di dalam Soheh Bukhari dan soheh muslim misalnya, terdapat hadis yang menerangkan bagaimana Rasulullah mengambil bye'ah dari para muslimah dengan percakapan. Ibnu Hajar dalam syarah Soheh Bukhari, kitab Fathul Bari menyimpulkan dari hadis ini bahawa, mendengar percakapan perempuan itu adalah harus, dan suara mereka bukanlah aurat. Imam Nawawi pula dalam syarah sahih muslim menyatakan: dalam hadis ini kita dapati bahawa percakapan wanita itu harus untuk kita mendengarnya dengan ada hajat atau tujuan, dan suara mereka bukanlah aurat. (rujuk Mufassal, Abd karim Zaidan, jilid 3, m/s 276/277)
Antara dalil lain yang mengharuskan percakapan antara lelaki dan wanita yang bukan mahram ialah Al-Qur'an memperbolehkan laki-laki bertanya kepada isteri-isteri Nabi saw dari balik tabir. Allah berfirman: "Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir ..."(al-Ahzab: 53) Permintaan atau pertanyaan dari para sahabat itu sudah tentu memerlukan jawapan dari Ummahatul Mukminin. Mereka memberi fatwa kepada orang yang meminta fatwa kepada mereka, dan meriwayatkan hadits-hadits bagi orang yang ingin mengambil hadits mereka. Pernah ada seorang wanita bertanya kepada Nabi saw. dihadapan kaum laki-laki. Ia tidak merasa keberatan melakukan hal itu, dan Nabi pun tidak melarangnya.
Dan pernah ada seorang wanita yang menyangkal pendapat Umar ketika Umar sedang berpidato di atas mimbar. Atas sanggahan itu, Umar tidak mengingkarinya, bahkan ia mengakui kebenaran wanita tersebut dan mengakui kesalahannya sendiri seraya berkata, "Semua orang (bisa) lebih mengerti daripada Umar." Di dalam Al-Quran juga kita dapat mengikuti kisah seorang wanita muda, putri seorang syeikh yang sudah tua (Nabi Syu'aib alaihissalam) yang bercakap dengan Musa, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur'an: "... Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)-mu memberi minum (ternak) kami ..." (al-Qashash: 25)
Sebelum itu, wanita tersebut dan saudara perempuannya juga berkata kepada Musa ketika Musa bertanya kepada mereka: "... Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? Kedua wanita itu menjawab, 'Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedangkan bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya." (al-Qashash: 23)
Selanjutnya, Al-Qur'an juga menceritakan kepada kita percakapan yang terjadi antara Nabi Sulaiman a.s. dengan Ratu Saba, serta percakapan sang Ratu dengan kaumnya yang laki-laki. Begitu pula peraturan (syariat) bagi nabi-nabi sebelum kita menjadi peraturan kita selama peraturan kita tidak menghapuskannya, sebagaimana pendapat yang terpilih. Yang dilarang bagi wanita ialah melunakkan pembicaraan untuk menarik laki-laki, yang oleh Al-Qur'an diistilahkan dengan al-khudhu bil-qaul (tunduk/lunak/memikat dalam berbicara), sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: "Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu melunakkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik." (al-Ahzab: 32)
Allah melarang khudhu, yakni cara bicara yang bias membangkitkan nafsu orang-orang yang hatinya "berpenyakit." Namun, dengan ini bukan bererti Allah melarang semua pembicaraan wanita dengan setiap laki-laki. Perhatikan hujung ayat dari surat di atas: "Dan ucapkanlah perkataan yang baik". Melalui hujah ini, maka harus untuk seseorang bercakap melalui telefon, atau menghantar SMS, dengan hajat dan tujuan yang baik di sisi syara' seperti yang dibawakan dalam contoh-contoh di atas serta aman dari fitnah, syahwat dan tidak melalaikan kita dari mengingati Allah Ta'ala. Semua ini hanya dapat ditentukan oleh diri orang yang menelefon atau memberi sms itu sendiri, samaada percakapannya itu menimbulkan fitnah atau tidak, melalaikan atau
tidak, maka kalau dia berdusta pada dirinya sendiri dan orang lain,maka itu antara dia dan Allah Ta'ala.
diambil daripada blog almaarif87. - Isnin, November 21, 2005
Sunday, January 15, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment